Family

[diary Bun] The Invisible Thing

18 agt 11… (diposting karena bun ngerjakan tugas :D)

Mati lampu.waktu kukecil,nanum kecil paling sensitif soal mati lampu.detik pertama mati lampu aku tahu. Mam…nanum takut buta.setitik cahaya saja utk membuatku tenang.takut buta, takut mati, Dan suka sekali… Bintang.twinkle2 in the night,give me hope,give me strength…

Dan kali ini,timbilan.semua tertawa,haha.it’s not serious thing.my family,my bestfriends,my colleguages…
Kenyataannya harus dioperasi. Hari pertama,masih gagah seperti biasa,haha hihi.it’s me, tangguh ngadepin cobaan 😉 …hari kedua,kepalaku mulai sakit…
Dan dua krucil yg biasa berloncatan di kasur  setiap malam sdh tak terlihat krn perban di mata.

Subhanalloh,ya Allah…maafkan aku yg tak menyadari nikmat penglihatan darimu….izinkan aku melihat dua gadis kecilku dewasa.
Dan kusandarkan lelah dan gundahku.

“Yah…bun takut buta…”
“Yg sabar ya bun…”

Tiba-tiba inget sesuatu,alda n codered…
we can make it. Belahan jiwaku,lagu ini untuk Lintang,bintangku dlm arti sebenarnya. Dejavukah?

“And this time there will be no hesitating
If i was blind,i’d still see you as mine…”

-=== Alhamdulillah ya Allah, masih melihat Prasojos pules bertiga ===-

Advertisements
Family

Prasasti

Hari ini, tiga tahun yll

Achi lahir. Seru? iya… tapi bunda yang pasrah gak tau namanya IMD, namanya rawat gabung. walhasil, klo achi ditarok di kamar bayi, bunda tidur hehe…
tapi ada hikmahnya, karena persalinan normal tetep bikin badan rontok. Bolak-balik bunda telpon mama. Mulai dari perut kembung, muntah. Hmmm, selalu ada saat pertama. Dan hal terbaik dari menjadi ibu adalah, bun jadi tambah sayang eyang.

Berdebar-debar menunggu achi tengkurap, berdiri, mbalik.
Mempersiapkan diri untuk punya adik lagi. Hohoho, jadi inget waktu bunda hamil lagi. Masak sih bun jadi kurang gizi klo ngasi makan dua anak 🙂 jalan rezeki kalian masing-masing, sudah diatur sempurna kan. Yuk aja tandem nursing

Dan Achi udah gak mimik bun lagi. Dua tahun satu bulan menjelang kelahiran adek Iza. Lama ya Chi, kita bahas bahwa klo dari perut bunda yang ndut, akan hadir makhluk baru yang harus diperhatikan dan disayang seperti achi. Dan melihat Adek Iza mimik, Achi jadi rewel luar biasa. Harus gimana, Chi?

Weaning with love. Dua tulisan dari mbak Luluk dan Mbak Indah menguatkan bunda. Well, saat2 kayak gini gak akan terulang kan Chi?
Untuk alasan apa Achi disapih?
Bukan karena ada adek ya Chi, Achi akan tergusur.
Dan bukan karena mimik bun habis, bukan karena pahit. Karena Achi udah waktunya mandiri, bersiap jadi gadis besar. Anak besar bisa menahan diri dari keinginannya. Anak besar gak terlalu bergantung bunda.

“Adek! Minumnya jangan lama-lama”… Hm, Achi marah dan gusar.
Ok, Achi blom siap ya. Gpp, bun bakal nunggu sampai Achi bener-bener siap.

Mulai dari ngasi syarat kudu ngabisin UHT dulu.
Trus minum cuma kalo malem.
Dan mendahulukan adek Iza 🙂 Achi belajar sabar ya…

Bunda belajar ikhlas. Dan saat itu benar-benar datang, gadis kecil bunda sudah melangkah maju.. Sepulang kantor 28 Oktober 2009, Achi bilang,”Achi gak mimik bun lagi… Achi udah gede”. Bunda dan ayah bangga ke Achi, sungguh! Walo kadang masih suka gangguin adek, kadang masih ngiri, tapi bisa menahan diri sungguh melegakan. Yup… 34 bulan.

Sekarang Achi udah nambah umur. Sekedar prasasti bahwa tiga tahun aku udah jadi ibu dan belahan jiwaku jadi ayah. Prasasti bahwa tahun-tahun berganti dan tanggung jawab kami masih panjang.

Insya Allah, Bunda sama ayah mendampingi… tapi Allah yang akan menjagamu dan adek Iza sepanjang waktu.

Penuh cinta
ayah-bunda